Cara Meniti Karir Tanpa Bayang-Bayang dan Menjadi Diri Sendiri?

Could a career without a shadow and be yourself … ?

Bila lokomotif pindah jalur, haruskah gerbong mengikutinya…?

Di berberapa perusahaan yang bergerak di bisnis tertentu (maaf tidak bisa saya sebutkan disini) sering terjadi feneomena yang kalau digambarkan mirip seperti lokomotif kereta api yang menarik gerbong dibelakangnya, yaitu bila ada seorang direktur atau seles manager dari perusahaan A pindah ke perusahaan B maka perpindahan ini akan di ikuti oleh bawahannya mulai sales manajer, area manajer, supervisor bahkan sampai dengan representative juga ikut-ikutan pindah ke perusahaan B, sampai-sampai ada yang menyebutnya bahwa di perusahaan B telah terjadi gerakan A-nisasi.

Teman saya pernah datang kepada saya.. Dia kecewa bahwa atasannya tidak mengajaknya untuk ikut bergabung dengan perusahaan B yang baru. Padahal mulai marketing manejer, sales manejer, distrik mananjer, supervisor sampai dengan reprenstative dan teman-temannya, semuanya secara perlahan sudah pindah ke perusahaan B.

Hati teman saya menjadi sangat risau karena ada beberapa faktor :
1. Dia menjadi sangat asing di perusaahannya, karena orang-orangnya banyak yang baru.
2. Dia takut tidak bisa bekerja sama dengan team yang baru, bahkan mungkin atasannya yang baru malah membencinya.
3. Teman saya merasa jenjang karir yang diincarnya selama ini bisa lenyap begitu saja, bahkan posisinya bisa digeser ke divisi lain, karena Direktur yang baru melakukan perubahan struktur organsasi yang signifikan.
3. Gawatnya lagi Direktur yang baru ini adalah mantan dari perusahaan B, dan melalukan B-nisasi di perusahaan A.
(Jadi orang-orang dari perusahaan A pindah ke perusahaan B, kemudian mengadakan A-nisasi, sebaliknya orang-orang dari perusahaan B pindah ke perusahaan A melakukan B-nisasi. Ini gak bohong loh.. ini true story.. )
4. dan lain-lain, yang kalau saya dengarkan semuanya saya jadi pusing sendiri.

Berikut ini adalah pandangan dari beberapa direktur (PT. MK, PT ES) yang pernah memberikan jawabanya kepada saya mengenai fenomena lokomotif dan gerbong kereta api ini, kurang lebihnya  seperti berikut ini

Bagi direktur/marketing manajer yang membawa gerbongnya ikut pindah, artinya mungkin beliaunya kesulitan beradaptasi dengan orang-orang baru (namanya saja manusia), kesulitan membina, merasa terlalu lama, tidak siap dll. sehingga mengajak  bawahannya di perusahaan lama untuk turut membantu. Intinya atasan yang punya tipe seperti ini, percayalah bila ada peluang sekecil apapun pasti kita akan di ajak. Artinya kalau kita tidak di ajak serta, ada kemungkinan di perusaahaan baru sudah ada orangnya, mungkin lebih bagus dari kita, atau memang betul-betul tidak ada tempat yang sesuai dengan kita.

Pendapat Beliau berdua ini sah-sah saja, sebab mereka posisinya di atas (di puncak piramida) apalagi beliau berdua ini ketika pindah dari PT B ke PT MK dan PT ES tidak mengajak bawahannya untuk pindah. Beliau lebih memilih orang-orang yang sudah ada di perusahaan baru “diolah” lebih baik lagi, sebab yang salah adalah manejemennya bukan orangnya (seperti Dahlan Iskan menjadi direktur PLN kali..? orang-orang PLN performancenya baik semua, tidak ada yang korupsi, betul..? jadi mengapa harus membawa orang Jawa Pos ke PLN..? betul..?) disamping itu dengan membawa orang-orang lama masuk ke perusahan baru bisa menyebabkan terjadinya demotivasi di antara karyawan perusahaan baru, seperti yang dihadapai oleh teman saya.

Nah.. kalo pendapat saya bagaimana…? saya ini posisinya tanggung tidak di atas tidak di bawah.., malah terjepit di tengah, jadi pipih (gepeng) betul..? saya katakan kepada teman saya dia adalah orang yang lebih hebat dari saya.., hanya timingnya saja yang belum cocok!, sehingga karirnya stagnan.

” Kalau aku jadi kamu.. mengapa kamu harus berdiri dibawah bayang  atasanmu..? bukankah kamu bisa berdiri dan tumbuh lebih besar dari bayang-bayang yang menaungimu..? Ini adalah tantangan bagimu, tunjukkan bahwa kamu bisa..!”. (Ya.. seperti diperusahaan keluarga beberapa managernya berlindung dibawah bayang bayang papanya, suaminya, pamannya dll),

Uupps.., ini bukan berarti saya anti dengan cara-cara lokomotif yang menarik gerbongnya, saya setuju-setuju saja, mengapa tidak ? Namun saya mempunyai pertimbangan yang sederhana untuk orang yang sehebat dia :
1. Selama dia bisa bertindak profesional, maka dia akan selamat.., saya sangat yakin bahwa atasan barunya akan bertindak profesional juga, tidak akan bertindak hanya berdasarkan like-dislike dan subyektif belaka..!, sebab atasan barunya juga akan mengamankan posisinya juga.
2. Dia mengatakan takut tidak bisa bekerja sama dengan orang baru..? itu omong kosong.. buktinya cutomer VIP baru selalu saja dia dapatkan, dan apapun yang terjadi,  dia mau tidak mau harus bisa bekerja sama dengan banyak orang..!!
3. Karena semua temannya adalah baru di bisnis ini, mestinya dia menang start, dia bisa menunjukkan ke atasan barunya bahwa dia bukan hanya senior tapi dialah sebagai penunjuk jalan bagi atasannya untuk segera menyatu dengan bisnis yang baru.
4. Sementara kalau dia nekat pindah ke perusahaan yang baru, mungkin dia tidak perlu beradaptasi dengan orang-orangnya terutama atasannya, namun apakah dia mampu beradaptasi dengan sistemnya..? Apakah sistem yang baru selalu lebih baik..? nyatanya tidak selalu demikian.. sering orang yang baru saja pindah ke perusahaan lain mengatakan “saya telah keluar dari mulut buaya dan masuk ke mulut singa..!”. Anda pernah mendengarnya..? pasti pernah..!!

So.. kalau kamu tidak diajak oleh atasanmu jangan sedih, menurutku itu adalah peluang yang baik juga…

Dan faktanya setelah dia memutuskan untuk bertahan di perusahaan lama :
1. Satu tahun kemudian dia naik panggung untuk menerima penghargaan sebagai 5 representative terbaik, mudah di tebak sebab yang lain masih belajar merangkak, dia sudah menang start, dia sudah naik sepeda motor.
2. Dua tahun kemudian di naik jabatan, tapi bukan pada posisi yang dia incar yaitu institutionn executive (setara super representative), posisi ini dihapus oleh Direktur yang baru karena dianggap tidak produktif (persih seperti perkiraannya bahwa posisi ini akan dihapus), dan diganti dengan ass area manager, dan dia akhirnya terpilih menduduki posisi tersebut (yang jelas lebih bergengsi dari pada institution executive), setelah mengalahkan 16 orang kandidat, ini pun bisa ditebak, karena dia mempunyai leadership dan dia paling siap diantara yang lainnya.

Namun dari semuanya itu, yang paling membahagiakan dia adalah karena dia berhasil lepas dari bayang-bayang atasannya.., dia bisa menunjukkan jati dirinya, tidak seperti teman-temanya yang saat ini belum teruji dan masih hidup dibawah bayang atasannya..

Semoga tulisan saya membuat Anda terinspirasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s