Cara Menyimpan Barang Di Gudang Yang Baik

Saya (SY) diajak oleh teman sebut saja NST yang profesinya sebagai konsultan ISO kesebuah gudang. Hari itu adalah hari libur Nasional, namun di gudang tersebut para karyawan masih tetap bekerja, ini adalah tuntutan profesionalisme. Kemudian saya dikenalkan dengan seorang Owner sebut saja namanya HT dan kepala gudang yang kebetulan seorang wanita sebut saja ibu BLC. Hmm ini luar biasa, biasanya kepala gudang dijabat oleh pria, pasti ibu ini punya kelebihan yang luar biasa.

Meskipun saya ikut mendengarkan pembicaraan dan satu meja dengan beliau-beliau, namun dari awal saya sudah kurang nyambung. Tiba-tiba saya dikejutkan :
HT: “Bu.. bisa diambilkan produk R***N* yang kadaluarsa, tunjukkan pada pak Vdit, sebab bapak ini tahu masalah obat-obatan dan herbal”
BLC: “Bisa pak.. itu kode batchnya R*** letaknya dilorong 3, diatas pojok sebelah kanan, jumlahnya sekitar 250 botol, kalau mau lihat tempat penyimpanannya mari saya tunjukkan..”
Wiiii… hebat bener.. ada ratusan produk, ada puluhan lorong, ratusan rak dan mungkin ratusan nomor batch, nyatanya ibu ini hapal semua, inilah kelebihannya. Karena ada panggilan telepon ibu tersebut minta ijin untuk kembali keruangannya..

SY: “Ini memang kadaluarsa, namun kalau melihat tempat penyimpanannya bisa jadi produk ini sudah rusak sebelum kadaluarsanya..”
HT:”Baik bapak vdityv.. kami memang akan memasang beberapa AC di blok ini..”

Setelah saya selesai mencatat, waktu tubuh ini saya putar balik, tiba-tiba kaki saya tersandung sebuah barang sehingga hampir jatuh.. dengan agak jengkel saya berkata
SY:”Hmm kenapa sih barang ini ada di sini…?”
Karyawan gudang menjawab “Maaf pak seharusnya tidak berada di sini namun kami harus menunggu perintah dari ibu…”
HT:”Ya.. ya.. biasanya rapi, tidak ruwet seperti ini..”
Ketika masuk dalam ruang meeting saya melihat ada papan tulis besar berisi flow dan jadwal bongkar muat barang yang ditulisi rapi.
Sy:” Siapa yang menulis ini..? rapi bener..?
HT: “ibu BLC sendiri pak..!” kata beliau sambil tersenyum.. Setelah urusan selesai.. waktu hendak pulang saya melihat ada 2 orang supir yang sedang gelisah “Eee. mbak.. mana suratnya.. udah lama nih..”
Kemudian dijawab oleh salah seorang karyawan “Sebentar ya.. ibu masih ada tamu, sekarang masih terima telepon..”
Hmm dari tiga peristiwa ini saya tiba-tiba punya penilaian sendiri terhadap ibu tadi.

Dalam perjalan menuju parkir saya dan teman saya diantar oleh bapak Owner, sambil menceritakan bahwa beliau sendirilah yang mendidik ibu BLC, karir ibu BLC dimulai dari bawah, “ibu BLC dulu pekerjaannya hanya pencatat stock, kemudian saya ajari administrasi, komputer dan lain-lain, sehingga karirnya berkembang pesat sampai menjadi kepala gudang.
HT:”Dia hebat.. semuanya bisa Dia kuasai dalam waktu singkat.. bagaimana menurut pak Vdit..?”
SY:”Saya sependapat dengan bapak, ibu tadi benar-benar super, namun untuk operasional gudang mohon maaf saya ada sedikit ganjalan..” ketika saya akan melanjutkan pembicaraan tiba-tiba pembicaraan saya dipotong..
HT:”Saya tidak melihat demikian.. ibu BLC selama ini menjalankan operasional gudang dengan sangat baik..” Upss.. saya salah nih.. saya melihat bapak HT menunjukkan sikap yang kurang senang. Mestinya saya bicara Asal Bapak Senang saja contohnya seperti ini “Betul pak.. bapak pintar mendidik orang”. Teman saya juga terlihat mukanya cemberut.. sepertinya gara-gara kehadiran dan kesalahan saya kontrak kerja jadi gagal disepakati, yah.. sudah terlanjur.. minta maaf sekali lagi.. “Mohon maaf pak…”

By the way, menurut teman yang konsultan ISO itu, pengamatan saya sebenarnya tidak salah sebab :
1. Sistem iventory gudang tersebut masih kurang baik, terbukti dengan adanya produk kadaluarsa yang tidak terantisipasi.
2. Tata letak gudang yang ruwet dan tempat penyimpanan produk tertentu yang kurang layak, mestinya dibuat blok khusus untuk produk yang membutuhkan AC 24 jam.
3. Sistem dan Prosedure kerja untuk para karyawan masih kurang baik, sehingga karyawan bisa tahu apa yang harus dilakukan, terbukti kaki saya terantuk barang yang mestinya tidak berada di tempat itu.
Wah.. benar-benar ISO bangets teman saya ini.. pendapat ini bagi saya tidak salah, namun bila digabungkan dengan pengamatan saya alasannya akan menjadi lebih gamblang..
Pengamatan saya adalah :
1. Pendelegasian yang kurang, sebagai kepala gudang maka beliau seharunya bisa menjalankan konsep bekerja melalui orang lain, yang beliau tunjukkan tadi adalah beliau mengerjakan sendiri, hanya pinjam tenaga orang saja, buktinya untuk memindahkan barang yang letaknya tidak patut saja karyawan harus menunggu komando dari ibu BLC, menulis dan menghitung sendiri jadwal bongkar muat dan seterusnya. Nah.. seandainya ibu BLC ini tidak masuk satu atau dua hari saja apa jadinya ya..?

NST:”Saya mengajak Vdit, tujuannya agar bisa membantu saya melobi, pak Vdit itu kan jagonya melobi..? tapi kalau hasilnya jadi lain ya sudahlah.. kalau bapak HT tidak mau dikritik ya biarkan mengurus gudangnya sendiri, ha.. ha…”
Ada pepatah sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga.. apalagi saya bukan tupai.. ya sudah pasti bisa jatuh..

Semoga Tulisan saya dapat membuat Anda ter Inspirasi

About these ads

2 comments on “Cara Menyimpan Barang Di Gudang Yang Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s