Membuat Program Marketing atau Strategi Penjualan ?

Menyusun stretegi penjualan (selling strategy) tidak sama dengan strategi pemasaran (marketing strategy), loh bedanya dimana..? (tunggu artikel berikutnya ok ?). Menurut Tanadi Santosa di Indonesia ini aneh.., sebab menurut survey Beliau, kegiatan penjualan paling sering di aplikasikan pada kegiatan bisnis sehari-hari (lumrah,  di luar Indonesia juga demikian), sementara kegiatan marketing justru sangat jarang di aplikasikan, namun anehnya.. hampir semua perguruan tinggi malah mengajarkan marketing dan sangat sedikit sekolah yang mengajarkan selling, termasuk di ITS, di kampus saya sendiri.

Nah.. karena itu pada hari minggu, saat anak-anak saya sedang libur, mereka saya beri tugas untuk menyusun strategi penjualan yang sederhana.. tentu bukan teori.. Mereka saya ajak pergi ke Super Mall Pakuwon (cari yang dekat rumah, cuma 5 menit aja) untuk mempelajari stretegi selling yang dilakukan oleh ratusan tenan yang ada di sana.

“Kalian seolah-olah adalah pemilik toko mainan, harga mainan berkisar antara Rp. 25.000,- sampai dengan Rp. 1,5 juta, Kalian harus membuat strategi penjualan agar mainan ini cepat laku, Kalian gak usah mencari ide baru, kalian cukup nyontek (disekolah gak boleh nyontek bukan..?) semua strategi yang dilakukan oleh para tenan yang ada di Super Mall ini, Kalian papa beri waktu 3 jam untuk menyusun laporan.. Ok..?” “Siap pa..!”.

Nah.. tiga jam kemudian di resto yang telah ditentukan, kami bertemu.. inilah laporannya :

Startegi Penjualan
Disusun Oleh Konsultan LTY (lala,tyo,yobi)

Startegi Lala

1. Stan, lebih baik stan yang tanpa partisi biar anak anak kecil yang lain bisa melihat koleksi mainan yang ada, atau kalau ada partisinya, sebaiknya berupa kaca tembus pandang (pantes orang fashion suka tampil nih..)

2. Display, dibuat menarik, warna-warni khas anak, plus lagu anak-anak. (hah.. ??? mana ada anak-anak yang suka lagu anak-anak..?, anak-anak jaman sekarang suka lagunya Demasive, Ungu dll), salah nih..)

3. Diskon, ada diskon untuk produk tertentu (yoyo dan mobil-mobilan) agar kesannya murah (dasar cewek)

4. Tukar tambah : untuk mainan yang rusak akan dibeli, dengan syarat membeli mainan baru yang jenisnya dan harganya ditentukan, jadi anak-anak yang hobi/mempunyai kebiasaan merusakkan mainan tidak dimarahi mamanya, mamanya bisa tetap tenang bila anaknya minta dibelikan mainan yang baru . (Hmm, pikirannya sama dengan mamanya)

5. Voucher : untuk yang sudah beli produk, agar terpancing untuk beli lagi (wah.. kelihatan yang di target adalah orang tuanya sebagai pengambil keputusan, mengapa yang digarap bukan anaknya ya..?, tunggu tulisan berikutnya akan saya bahas siapa-siapa saja yang menjadi pengambil keputusan dalam membeli, sehingga orang inilah yang menjadi sasaran penjualan)

6. Pasang baner dimana-mana (efektif mana dengan sebar brosur..?)

Strategi Tyo

1. Harus ada mbak-mbak : (Seles Rep/Sales Promotion Girl (SPG)) yang cantik (Hah.. kamu niru siapa sih.. papanya gak gitu.. ha.. ha.. ?)

* Mbak-mbaknya harus bisa ngejar.. (Wiii…  maksudnya ngejar copet ?)

* Disebar diseluruh Mall.. (Wiii.. butuh 100 orang/SPG kali…?)

2. Member, bagi yang pernah membeli, otomatis mendapatkan diskon. Kartu member bisa digunakan ke T*me Zo*e atau makan di P*zza H*T dan mendapatkan diskon   (Hmmm maniak Piz*a sih..)

3. Pintar ngomong dan ramah : (ok.. ok.. yang dimaksud mungkin Sales Talk, nah ngomong ke siapa..? yang dirayu siapa..?)

4. Poin : mengumpulkan banyak poin dari pembelian, poin yang banyak bisa ditukar hadiah atau mainan (hmm.. orang dibuat ngejar target nih..)

5. Brosur : berisi edukasi tentang pentingnya main game, seperti melatih otot motorik (Wiii… supaya diperbolehkan mamanya main game, pinter juga..)

6. Hadiah gratis : berupa coklat/permen bagi yang mau mampir ke stan, disebarkan oleh SPG (ini baru sasarannya anak, bukan orang tuanya..!)

7. Lomba : yang mau ikut lomba otomatis beli mainan untuk keperluan lomba

* Lomba menggambar atau lomba band tingkat anak-anak biar ramai (mentank-mentank kamu anak band ya..?)

Strategi Yobi

1. Mengundang artis : Naruto dan Sponge Bob (Wiii.. yang jadi sasaran anak-anak)

2. Boleh mencoba mainan sepuasnya, kalau cocok baru beli. (Wah.. pasti banyak anak yang suka, mau balas dendam sama toko didepan itu ya..?)

3. Sebelum pulang sekeluarga harus ketemu Romy Rafael : Mamanya dihipnotis agar mau membelikan mainan untuk anaknya (Wii.. lengkap sudah.. anaknya ditarget mamanya juga ditarget)

“Pa.. pemenangnya siapa pa…?”
“Coba kalian nilai sendiri, siapa yang programnya paling bagus..?”
“Yobi…. Yobi…..”

Semoga tulisan saya membuat Anda ter Inspirasi

About these ads

16 comments on “Membuat Program Marketing atau Strategi Penjualan ?

  1. Setuju pak, emang dunia pendidikan kita mustinya lbih menekankan pada ilmu yang aplikatif jadi setelah lulus dari perguruan tinggi benar benar siap memenangkan pertarungan di arena kehidupan sesungguhnya.

  2. Selamat Siang.
    Pa saya kepala sekolah SD di Bandung, mau menanyakan cara promo sekolah yang baik, agar target siswa dari tahun ke tahun bisa terpenuhi.
    Setiap tahun saya melakukan promo memasang spanduk, banner, sebar brosur dll. tapi belum berhasil.
    sebelumnya, saya ucapkan terima kasih atas jawabannya.

    • saya sedang mengerjakan sekolah madrasah di wonorejo surabaya dengan target yang sama, namun masih ada masalah lagi yaitu 70 % muridnya tidak bisa bayar uang sekolah… yayasan yang mendanai juga dalam kondisi berat… bapak jangan risau… kita satu keluarga besar, keluarga guru… ayah saya juga mantan kepala sekolah sman2 kediri jawa timur… selanjutnya bapak saya hubungi melalui email…

      • Salam kenal pak,,
        Sya jg ingin menimba ilmu dr bapak ^^. sya ingin belajar bagaimana cara membuat program marketing yg baik agar target mahasiswa baru terpenuhi. Kebetulan Sya mendapat kesempatan belajar dengan membantu marketing di PTS di tempat sya mengajar. Kalo berkenan, bisakah sya brkonsultasi lewat email pak? terimakasih

  3. artikel yang sederhana, tapi penuh inspiratif..sesekali saya boleh konsultasi langsung ke nmr teleponnya ya pak..

  4. terkadang siswa harus di tuntut hafal teori, menurut saya bukan spt itu harusnya pemahamanya yg harus di tekankan, menurut saya pak, pelaku bisnis di indonesia banyak yang menggunakan cara jadul di doktrin oleh mentor2 nya dengan cara yang kelasik yang di tuju adalah profit oriented tapi coba di balikan menjadi benefit oriented. dengan menonjolkan mafaat yg di berikan kepada target sasaran dan menciptakan brand bonding. analogina didalam benefit pasti ada prifit tapi di dalam profit belum tentu ada benefit.

  5. aku ingin membuat program penjualan 3 bulan terakhir, bagai mana supaya bisa menyakinkan, aku marketing d sebuah surat kabar (AE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s